3D2N Belitung - D1

Bertandang ke Negeri Laskar Pelangi, Belitung sudah menjadi impian saya sejak film Laskar Pelangi terbit di tahun 2008.
Alhamdulillah 15-17 April 2016 impian itu pun terwujud. Bersama kawan saya sedari kuliah, Dian, kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak awal tahun. Entah apa yang membuat kami sama-sama ingin sekali pergi ke Belitung segera. Berbekal instagram kami mulai mencari trip organizer terbaik untuk membantu kami mewujudkan traveling tak terlupakan di Belitung. Awalnya kami akan join open trip di salah satu trip organizer dengan biaya kurang lebih 2,3 juta sudah termasuk tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan Februari, namun selang beberapa waktu Dian mengajak teman-temannya yang lain dan kami pun akhirnya menggunakan trip organizer Visit Belitong dengan biaya 750rb per orang belum termasuk tiket pesawat PP.

Hari H pun tiba, saya dan Dian menggunakan pesawat dari Jakarta dengan tujuan Tanjung Pandan tanggal 15 April 2016, jadwal penerbangan 05.55 WIB. Perjalanan udara kami tempuh selama 45 menit. Usai landing, saya dan Dian menunggu peserta trip lainnya yang merupakan teman kerja Dian dan beberapa orang lain yang belum kami kenal. Tak berapa lama kami pun bertemu, saling berkenalan dan saya pun juga baru tahu di sana kalau jumlah peserta grup kami ada 8 orang.
Tour guide dari Visit Belitong sudah menyambut kami di gerbang kedatangan, menggunakan kendaraan elf kami pun langsung diantarkan menuju ke tujuan pertama kami yaitu sarapan Mie Belitung Atep di Jalan Sriwijaya No.27.
Bersiap menyantap Mie Belitung
Mie Belitung Atep ini terdiri dari mie, udang, potongan tahu, tauge dan kelengkapan lainnya dengan kuah kental yang manis tak lupa ada emping sebagai pelengkap. Saya langsung suka pertama kali mencicip makanan ini, karena pada dasarnya saya penyuka rasa manis. Untuk minuman tour guide kami merekomendasikan es jeruk kunci, jeruk khas Belitung yang asamnya unik dan menyegarkan.
Selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya yaitu SDN Muhammadiyah Gantong (replika) di Belitung Timur. Perjalanan dari Tanjung Pandan menuju ke Gantong, Belitung Timur kami tempuh dalam waktu 1,5 jam. Area replika SDN Muhammadiyah Gantong merupakan tanah lapang luas yang terdapat replika sekolah, galeri, toilet dan area parkir.

replika
Tanpa berlama-lama kami langsung berlari-lari menuju ke sekolah layaknya anak-anak Laskar Pelangi yang semangat masuk sekolah. Bangunan disini hanya replikanya saja, lokasi bangunan yang asli (yang digunakan untuk syuting Laskar Pelangi) lokasinya cukup dekat dari sini, dan sudah direnovasi menjadi berdinding tembok. Sekolah ini terdiri dari 2 ruang kelas dengan beberapa bangku tua di dalamnya.

we can't hide our happiness
Galeri Rakyat Laskar Pelangi
Di dalam galeri terpajang apik kerajinan-kerajinan khas Belitung, koleksi memorabilia Laskar Pelangi dan beberapa lukisan yang dijual.

Puas bermain-main layaknya anak SD yang kegirangan saat jam istirahat kami beranjak untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Museum Kata Andrea yang lokasinya cukup dekat dari lokasi replika.
halaman depan
dekorasi jendela depan

terpajang apik di dinding salah satu ruangan
Museum Kata Andrea Hirata dibangun pada tahun 2010, di dalam museum ini tersimpan ratusan koleksi Andrea Hirata yang dipajang di sekeliling dinding. Bangunan ini lebih mirip seperti rumah yang dialihfungsikan menjadi museum. Bagian belakang yang kalo dilihat memang sebelumnya meurpakan dapur, diubah menjadi warung kopi dengan beberapa bangku di tengah namun tetap mempertahankan keaslian bangunannya, hanya ditambahkan hiasan-hiasan dinding yang unik yang membawa kita serasa berada di desa. Warung kopi ini bernama Kupi Kuli.


Warkop Kupi Kuli
Di Kupi Kuli kita bisa memesan kopi khas belitung, minuman kemasan, dan cemilan seperti pisang goreng, tape goreng dan lainnya dengan harga terjangkau. Apalagi ditambah sesaat setelah kami tiba disana hujan turun cukup deras, dan ini justru membuat kami semakin akrab, bercengkerama ditemani kopi dan gorengan hangat.
Berjalan ke area belakang kita masih dapat menemukan beberapa bangku dan ruangan yang masih menjadi bagian dari Kupi Kuli. Di area lainnya terdapat ruangan terbuka yang memajang poster film lawas, quote, dan beberapa pajangan yang terkait dengan literatur lainnya.
ngopi di halaman belakang museum
Usai waktu sholat Jum'at kami melanjutkan perjalanan untuk makan siang di daerah Manggar, yaitu di tepi Pantai Serdang di warung seafood Rudi Fakistan. Sayang sekali saat itu penuh dan kami harus menunggu pesanan makanan sekitar 1,5 jam. Pengeluaran makan siang kami disini per-orang sekitar 50rb rupiah.

Kenyang makan seafood, kami lanjutkan perjalanan ke Vihara Dewi Kwan Im. Sayang ketika kami sampai di sana, patung Dewi Kwan Im sedang direnovasi :(
berfoto di depan vihara


Dan tujuan terakhir hari ini adalah Pantai Burung Mandi. Kenapa dinamakan pantai Burung Mandi, karena pantai ini pernah menjadi lokasi persinggahan burung untuk mandi dan mencari makan, namun sekarang sudah tidak ada lagi. Pantai ini lebih digunakan oleh para nelayan untuk gerbang menuju ke laut mencari ikan. Kegiatan yang kami lakukan di sini tak banyak, kami berfoto, duduk-duduk di tepi pantai, bermain ayunan dan tak lupa menikmati es kelapa muda sambil menikmati angin semilir sore hari, hmmm sungguh menyenangkan. Harga sebatok kelapa muda dihargai 15rb rupiah.
perahu-perahu nelayan

senja di Pantai Burung Mandi

Lanjut ke hari ke dua .....

Travel tips :
- Bawa makanan sendiri jika tidak ingin mengantri lama di warung/restoran
- Daripada sepatu lebih baik menggunakan sandal karena medan yang dilalui kebanyakan adalah pasir hehe
- Gunakan pakaian berbahan kaos
- Celana paling nyaman adalah celana kain (melar lebih nyaman)

Kucing Peliharaan Mati Karena Cat Distemper

 

 🐱🚫 Pecinta kucing,hati-hati dgn distemper / Feline Panleukopenia Virus (FPV) 🚫🐱
3 kucing kesayangan saya mati dalam waktu 2 minggu.
Virus ini jahat sekali,berdasarkan artikel 90% kucing yg terkena FPV akan mati. Gejala awal kucing tidak nafsu makan,lemah,namun kadang ceria lagi dan mau makan walopun hanya sedikit,lalu kembali lemah dan terkulai lemas.
2 kucing saya telah mati minggu pertama dgn kondisi yg menyedihkan mereka muntah2 bahkan sang induk yg sedang hamil mengalami keguguran. Kucing ketiga (kanan) mati pagi hari ini. Kemarin saat dibawa ke dokter dia masih spt biasa,niatnya utk divaksin namun karna kondisinya sedang demam,dia hanya diberikan suntikan vitamin dan obat. Malam hari tiba2 dia melemah,dan mencari tempat dingin utk tidur,berbagai upaya sudah dilakukan adik saya utk merawatnya tapi pagi hari ini dia muntah darah,melemah dan pergi selamanya.
Pecinta kucing,segera vaksin kucing kalian sebelum semuanya terlambat :'(
#catdistemper #panleukopenia #distemperkucing #savecat

Masha : 

Mici :

Mico :

 

Kupang, Nusa Tenggara Timur

Seumur hidup baru kali ini saya menginjakkan kaki di daerah timur kepulauan Indonesia,hello Nusa Tenggara Timur. Dinas menugaskan saya di Kupang selama 7 hari. Saya tidak akan bicara soal letak geografis karena cari di wikipedia pasti ada, saya juga tidak bicara soal perekonomiannya atau apalah karna terlalu berat untuk dibicarakan.
Well yang membuat saya jatuh cinta pada Kupang adalah alamnya, penduduknya dan makanannya!
Langit biru cerah terbentang luas, pandangan tak terhalang gedung tinggi bertingkat, tanah karang gersang, pohon lontar menjulang tinggi dimana-mana, pohon bunga flamboyan dengan bunga-bunganya yang merekah merah menyambut di sisi kanan kiri jalan selama perjalanan dan yang paling menyenangkan udaranya bersih. Sooooooo refreshing...Saya tak bisa berkedip melewatkan pemandangan indah sepanjang perjalanan dari hotel ke kantor di daerah Penfui. Sinar matahari pukul 8 pagi di Kupang panasnya sudah hampir sama dengan panas Jakarta pukul 11 siang, benar-benar menyengat dan membuat gosong haha, tapi saya menikmatinya.
Penduduk asli disini yang saya kenal selama di kantor sangat menyenangkan, mereka lucu-lucu, ramah dan baik hati. Apalagi makanan disana, ehmmmm, mak nyus kalo kata pak Bondhan.
Dinas di daerah selalu berhadiah wisata, dan tempat pertama yang saya kunjungi of course after office hours adalah pantai Batu Nona. Sebenarnya kami berniat ke pantai Lasiana namun saat menuju ke sana, akses masuk ditutup karena sedang ada perbaikan jalan, jadilah kami menuju ke pantai Batu Nona yang jaraknya tak jauh dari Lasiana. But wait, perjalanan menuju ke sana dari bandara kami disuguhi Allah pemandangan yang teramat manis, dan ini adalah salah satu lukisan terindah-Nya.

senja di Bukit Cinta

Beruntung sekali kami mendapatkan golden moment, dan lokasi Bukit Cinta ini hanya sekitar 3 menit dari bandara El Tari, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan :')

Sampailah kami di pantai Batu Nona untuk mengejar sunset indah kemerahan khas NTT
Sunset Pantai Batu Nona
Tak puas hanya berdiri di tepi pantai kami berjalan menyusuri tepian pantai menuju sebuah bukit karang.

Bukit Karang Batu Nona
Keesokan harinya, karna saya penasaran dengan pemandangan Bukit Cinta di siang hari, saya mengajak kawan-kawan untuk ke puncak bukit di siang hari yang sangat terik. Perjalanan hanya kami tempuh sekitar 5 menit dari kantor, mobil kami parkir di tepi jalan dan kami melakukan trekking ringan ke puncak bukit.
Memang tidak percuma kami sengaja panas-panasan kesini. Hamparan birunya langit yang bersih dan cerah, lautan biru nan luas dan juga hamparan savana membentang luas di depan mata, masyaAllah indahnya.





#no caption needed

Dan destinasi ke tiga saya selama di Kupang adalah Pantai Lasiana yang kemarin gagal kami kunjungi. Saat kami berkunjung kesana, kawasan pantai ini sedang dalam proses pembangunan fasilitas, ada sebuah monumen prisma yang tengah dibangun, juga gasebo gasebo di tepian pantai, sudah terbayang tempat ini pasti akan ramai dikunjungi wisatawan. Beruntung, saat kami kesana tidak terlalu banyak pengunjung sehingga kami benar-benar bisa menikmati keindahan Lasiana.
Pepohonan yang tumbuh di pantai kebanyakan bukanlah pohon kelapa namun pohon lontar, ya masih satu family dengan pohon kelapa. Dan di Pantai Lasiana ini puluhan pohon lontar berdiri tegak menghadap lautan menghiasi putihnya pasir pantai.






gasebo Lasiana
again #nocaptionneeded

Kawasan Pantai Lasiana memiliki beberapa gasebo yang bisa kita gunakan untuk berteduh santai sambil menikmati semilir angin pantai dan suara daun lontar yang bergesekan. Beberapa warung juga tersedia disana, mereka menjajakan camilan-camilan enak seperti pisang bakar, es kelapa, pop mie dan lainnya.

Selain wisata alam, di Kupang saya mendapatkan pengalaman langka dalam hidup saya, ya foto di tengah runway. Awalnya hanya ijin ke atasan untuk menikmati sunset di belakang kantor (tepi runway) eh malah diajakin patroli runway bersama dengan crew AMC (Airport Movement Control). Setelah mendapat ijin dari crew AMC, kami pun diijinkan melakukan patroli dengan mobil double cabin dari ujung runway ke ujung runway.
tengah runway 07


me and Kak Agnes
 Mampir dan berkenalan dengan crew PKPPK Bandara El Tari Kupang plus diberi kesempatan naik ke mobil jagoan morita.

 Benar-benar pengalaman baru di hidup saya, berkunjung ke salah satu titik di timur Indonesia, menikmati alam indahnya, terik mataharinya, gersang tanahnya, masyaAllah indahnya.

Lok Baintan, Banua

Banua atau Borneo atau Kalimantan
Alhamdulillah kali ini saya berkesempatan untuk dinas ke Kalimantan, dan ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau terbesar di Indonesia raya. Beruntung saya bekerja di perusahaan yang memiliki cabang di beberapa kepulauan Indonesia, dan kali ini pekerjaan mengantarkan saya ke Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan.
Tidak setiap dinas kami bisa berkesempatan untuk wisata, dan alhamdulillah dinas kali ini Allah menghadiahi saya kesempatan untuk mengunjungi salah satu pasar terapung paling terkenal bahkan hingga di dunia, Pasar Terapung Lok Baintan (big thanks to bapak Amir :D)

Lok Baintan berjarak sekitar 38-40 km dari kota Banjarbaru dan menempuh perjalanan sekitar 50 menit (kalau lancar). Dari Banjarbaru kami berangkat sekitar pukul 4.20 karna aktivitas di pasar terapung ini sudah mulai menggeliat sejak subuh atau sekitar pukul 5 pagi dan mulai sepi sekitar pukul 8 pagi,sehingga kami memang harus berangkat sebelum subuh agar tidak kehilangan moment.
Kami berhenti di tepi sungai Martapura untuk memarkirkan kendaraan, kemudian melaksanakan sholat subuh di masjid terdekat.

Untuk menuju ke Lok Baintan kita harus menyewa sebuah kapal klotok. Persewaan kapal klotok banyak dijumpai di sana namun terbatas, sehingga saat weekend anda harus booking terlebih dahulu agar tidak kehabisan kapal klotok. 
Kami deal harga dengan salah satu penyewa kapal klotok seharga 300rb rupiah untuk PP dermaga-Lok Baintan. Perjalanan menuju ke Lok Baintan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam. Selama perjalanan kita bisa menikmati pemandangan berupa rumah-rumah khas penduduk tepi sungai di Kalimantan. Bagi warga tepian sungai, sungai merupakan sumber daya yang mereka manfaatkan sehari-hari untuk mandi, mencuci baju, hingga tempat keramba ikan.
Rumah penduduk tepi Sungai Martapura
Dari jauh tampak samar kumpulan sampan-sampan dan yap, itulah Lok Baintan. Kapal kami menurunkan kecepatannya dan masuk ke dalam kumplan sampan-sampan. 

Selamat pagi Lok Baintan
Kami adalah klotok kedua yang datang di Lok Baintan
Beberapa sampan pedagang pun dengan cepat mendekat ke kapal kami dan menawarkan berbagai macam dagangan yang terpajang apik di atas sampan. Pasar Terapung Lok Baintan ini menjual berbagai macam buah-buahan, sayuran, dan cemilan seperti gorengan juga kue jajan pasar.

Geliat Lok Baintan

Bermacam buah dan sayuran

Ibu penjual kue dan jajan pasar

Kegiatan transaksi pun berlangsung dengan menyenangkan, sebelum membeli para ibu penjual akan memberikan kita tester secara gratis terutama untuk buah-buahan. Selain bertransaksi dengan pengunjung seperti kami, para pedagang saling bertukar barang atau melakukan barter dengan barang dari pedagang lain tergantung kebutuhan mereka.

Mari dibeli...
Beberapa ibu-ibu pedagang menggunakan bedak dari beras untuk melindungi kulit dari sinar matahari

Bapak-bapak pun ikutan berdagang

Saya membeli buah kasturi dan buah kecapi, memang saya sudah niatkan di sini saya akan membeli buah yang belum pernah saya coba. 10 buah Kecapi dihargai 15rb rupiah setelah saya tawar (awalnya 20rb hehe), dan untuk 10 buah Kasturi dihargai 25rb rupiah. Kata teman saya, Kasturi sudah mulai langka dan cukup jarang berbuah, jadi beruntung saya bisa memperoleh buah ini.

Numpang foto di sampan ibu penjual kecapi :P
Benar-benar pengalaman yang unik dalam hidup saya, bisa merasakan beraktivitas ala penduduk lokal Kalimantan Selatan. Meskipun kami bukan penduduk lokal, ibu-ibu pedagang sangat ramah pada kami, bahkan saat kapal klotok kami hendak meninggalkan Lok Baintan ada salah seorang ibu yang berteriak dari kejauhan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal dan mendoakan agar kami bisa kesini lagi, lalu ibu-ibu yang lain pun melambaikan tangan kepada kami ditambah senyum ramah mereka,  so sweet!!!Terima kasih Lok Baintan.


#all picture taken by me
Thanks to my travelmate : Pak Amir, Anggi, Febri, Mas Kasrial

Travel Tips :
- Darimanapun kamu berangkat, usahakan sampai disana sebelum subuh
- Rate sewa kapal klotok sekitar 300-400rb rupiah
- Siapkan uang kecil agar tidak kesulitan memperoleh kembalian
- Pakai jaket karena perjalanan di pagi hari dari dermaga ke Lok Baintan akan membuat kamu kedinginan karena angin, salah-salah bisa masuk angin 
- Buat penggemar fotografi siapkan wide lens agar bisa meng-capture seluruh area pasar yang indah ini



Singapore 2 Nights 3 Days



# Day 1
CGK – SIN
Changi naik MRT last train beli tiket seharga 2.3 SGD menuju ke Bugis. Transit di Tanah Merah untuk oper jalur ke Bugis. Sampai di Bugis station kita harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 500 meter ke hostel. Kami menginap di ABC Hostels di Jalan Kobor, Bugis. Sesampainya di ABC Hostels kami check in dan melunasi separuh biaya kamar karena separuhnya sudah kami bayar di Indonesia, oiya ada tambahan deposit sebesar 30 SGD. Biaya itu biasanya digunakan sebagai biaya jaminan atas kerusakan fasilitas hostels yang dilakukan oleh pengunjung, biaya ini nantinya akan dikembalikan saat check out.
Kamar kami berukuran sekitar 3 x 3 m2 sudah termasuk kamar mandi dalam, cukup sempit memang, namanya juga hostels. Fasilitas kamar ini cukup oke, not bad lah untuk backpacker, double bed tingkat, meja berhias, handuk, air minum, air panas mandi, dan yang paling penting bersih.

# Day 2
Travel time!
Destinasi pertama kami adalah Merlion Park. Dari Bugis station kami bergerak sejak pukul 07.30 menggunakan MRT menuju ke Rafles Place Station. Dari Rafles Place station kami berjalan kaki lumayan jauh sekitar setengah kilometer, dan sampailah kami di Merlion Park, menemui icon Negara Singa ini. 





Singapore River Cruise and Merlion
Saat itu masih pagi namun banyak sekali turis asing seperti kami yang sedang asik berfoto dengan Merlion, ataupun Marina Bay Sands yang berdiri gagah dari kejauhan. Di kawasan ini kita bisa melihat pemandangan indah berupa secuwil sudut Singapore, mulai dari gedung-gedung pencakar langit, Marina Bay Sands, Singapore Flyer dan juga Esplanade. FYI Marina Bay Sands dikembangkan oleh Las Vegas Sands milik Sheldon Adelson seorang konglomerat di negara Paman Sam.

Destinasi kami selanjutnya adalah Gardens By The Bay. Karena kami backpacker, kami tak menggunakan River Cruise, ya kami jalan kaki ke Marina Bay Sands dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km hahaha. Terbayang kan betapa keringat mengucur derasnya, apalagi saat itu cuaca panas dan udara lembab. Untuk menuju ke Marina Bay Sands kami melintasi jembatan Double Helix yang memiliki arsitektur yang unik.
Double Helix
 Dari The Shoppes Marina Bay Sands kami harus berjalan memutar, karena Gardens By The Bay terletak di balik Marina Bay Sands bila dipandang dari arah Merlion. Satu kesalahan kami, kami hanya sarapan dengan selembar roti dan kami pun kelaparan. Ditambah lagi mencari makanan di Gardens By The Bay yang wilayahnya sangat luas, sulit sekali. Usai brunch kami mulai petualangan di Gardens By The Bay. Ticket sudah di tangan, Cloud Forest jadi tujuan pertama kami. Masuk ke Cloud Forest serasa di pegunungan, udaranya dingin, derasnya air terjun dan percikan airnya menyegarkan tubuh kami yang sedari tadi kepanasan di luar. Cloud Forest memiliki air terjun buatan yang turun dari puncak gunung buatan setinggi 35 meter. Berbagai jenis tanaman ada di sana, dan kita pun bisa berjalan-jalan di skywalk yang melingkari gunung buatan.

Waterfall


Skywalk
 

Puas mengitari Cloud Forest, tujuan kami selanjutnya adalah Flower Dome. Wanita mana yang tak suka bunga, saya sebagai penyuka bunga merasa berada di surga ketika masuk ke Flower Dome. Betapa tidak, berbagai jenis bunga dari kawasan Mediterania dan subtropics ada disini. Anda bisa berfoto dengan berbagai bingkai berbentuk perangko raksasa yang terpajang di banyak sudut Flower Dome. Jangan kuatir kepanasan, meskipun ini rumah kaca seperti di Cloud Forest tapi udara disini sangat sejuk dan membuat pengunjung selalu nyaman. Selesai mengitari kawasan ini kita akan berakhir di souvenir shop Gardens By The Bay, harga souvenir disini bisa dibilang standard untuk souvenir shop di tempat wisata megah seperti ini.
Flower Dome

Flower everywhere
Cloud Forest sudah, Flower Dome sudah, saatnya ke destinasi terakhir di Garden By The Bay, yang rasa-rasanya sayang kalo dilewatkan..... Supertree Groove (OCBC Skyway). Untuk bisa berjalan-jalan di Supertree Groove kita harus membeli tiket seharga 5 SGD, kemudian naik lift and here we go.



Dari Supertree Groove kita bisa menikmati pemandangan sekeliling Gardens by The Bay dari ketinggian. Bagi yang takut ketinggian, ini tidak mengerikan ko. Puas berfoto-foto kami kembali turun dan mengakhiri petualangan disini.
Waktu sudah sore, kami beranjak meninggalkan Gardens By The Bay menuju ke destinasi selanjutnya. MRT dari Bayfront station akan membawa kami ke Orchard Road, namun di tengah perjalanan kami transit di Chinatown dan memutuskan untuk singgah ke Chinatown dulu. 


Berada di Chinatown adrenalin untuk belanja langsung meningkat. Bagaimana tidak, keluar station langsung disambut jalan lurus yang kanan kirinya berjajar kios oleh-oleh murah di sepanjang jalan. Tulisan “3 for $5” , “3 for $10”, “2 for $5” bertebaran dimana-mana. Alhasil kami langsung berbelanja berbagai pernak-pernik khas Singapore sebagai oleh-oleh. Niat awal kami ke Chinatown sebenarnya hanya untuk ke Tintin Shop, karena salah satu teman kami berniat membeli kaos Tintin, tapi kenyataannya beberapa kantong kresek sudah tertenteng di tangan kami, haha.

Karna waktu itu sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore, kami menuju ke sebuah masjid di kawasan Chinatown untuk melaksanakan sholat, sungguh rasanya bahagia sekali bisa bertemu sebuah masjid di Singapore, Masjid Jamae (Chulia) namanya, tepatnya di South Bridge Road.
Usai sholat kami kembali masuk ke Chinatown dan singgah ke McDonald’s untuk makan lagi, lelah berjalan membuat kami cepat lapar hehe. Dan percayalah, burger dan milo di Singapore ini jauh lebih enak daripada di Indonesia, kalau tidak percaya silakan coba sendiri haha. Perut kenyang saatnya beranjak ke Orchard menggunakan MRT dari Chinatown.
Di Orchard Road kami hanya berjalan-jalan di Tangs, Ngee Ann City, Lucky Plaza dan berakhir duduk ngemper di tepi jalan sembari menikmati sepotong ice cream Orchard dan menikmati lagu-lagu yang dibawakan seorang street performer, it’s kinda tired but nice Saturday night.

FYI, di Lucky Plaza anda bisa berbelanja berbagai macam oleh-oleh mulai dari gantungan kunci hingga coklat dengan harga miring. Bila anda ingin berbelanja fashion item branded anda bisa ke Ngee Ann City. Perjalanan kami lanjutkan untuk balik ke hostels, namun sebelum ke kembali ke hostels kami mampir dulu ke Bugis Street, lagi-lagi untuk beli oleh-oleh hehehe. Bugis Street kalo di Jakarta semacam Pasar Baru, sebuah pasar atau area perbelanjaan murah meriah yang menjual souvenir, makanan, minuman, mainan, tas, hingga baju pun juga ada di sana. Lucunya di dalam Bugis Street terdapat jalan-jalan kecil yang salah satunya kami temukan adalah Princess Street, begitu kami masuk ke Princess Street ternyata di gang ini menjual berbagai macam baju-baju cewek yang lucu-lucu ala korea, jepang, pantesan diberi nama Princess Street. Di Bugis Street anda harus hati-hati membawa tas, karena di sini ramai sekali. Dan Bugis Street adalah akhir perjalanan kami hari ini.

# Day 3
Hari ketiga, hari Minggu adalah hari terakhir kami di Singapore hiks sedih...
Karena flight kami pulang ke Jakarta pukul 17.15 waktu setempat kami, memperhitungkan pukul 15.00 sudah harus ada di Changi Airport.
Tujuan utama kami hari ini Sentosa Island. Usai check out dengan membawa barang-barang, tujuan pertama kali adalah Changi Airport, loh?! why? Yap, kami bela-belain ke Changi Airport di pagi hari hanya demi menitipkan barang-barang kami yang jelas gak memungkinkan di bawa jalan-jalan. Akhirnya kami dari Bugis Station langsung menuju ke Changi Airport. Setibanya di Changi Airport kami buru-buru mencari tempat penitipan bagasi yaitu terletak di terminal 2. Kami mampir sarapan di bandara untuk mengisi perut yang sudah sangat kosong, haha.
FYI penitipan koper di Changi Airport harganya sekitar 4.8 S$ per penitipan, jadi bila membawa tas kecil lebih baik dimasukkan ke dalam tas besar yang masih muat agar lebih hemat biaya.
Usai sarapan kami segera beranjak menuju ke Changi Station dan berangkat menuju ke Sentosa Island. Kami berhenti di stasiun Harbourfront dan tujuan pertama kami adalah Universal Studio!
Berasa kembali ke masa anak-anak ketika berada di sini.
*foto di depan universal studio
Kami memang tidak berniat untuk masuk ke Universial Studio karna waktunya jelas-jelas tidak mencukupi, kami hanya berfoto-foto di area Universal Studio dan tak lupa kami membeli souvenir khas Universal Studio. Oiya, souvenir yang paling saya suka adalah souvenir berupa penny. Penny ini kita buat sendiri dengan sebuah mesin pencetak penny, kita bisa memilih gambar mana yang kita suka lalu kita hanya perlu memasukkan uang 2 S$ lalu kita cetak dengan menarik tuas mesin pencetak dan voila jadilah penny buatan kita.

*foto penny*