Mencuri Ilmu dari Guru Besar

Acara Seminar yang kami adakan memberi banyak kesempatan untukku, disini aku ebrtemu dengan orang-orang besar dan hebat. Dan kali ini berbeda dengan pengalaman bersama Pak Ahmad Yuniarto, kali ini aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk ngobrol bersama salah satu pembicara yaitu Bapak Dr. Ir. M. Hasroel Thayib, APU. Beliau adalah guru besar UI juga Ahli Peneliti Utama, ilmuwan bidang Energi dan Lingkungan. Sosok pria sepuh yang cerdas ini sangat menyenangkan, begitu ramah dan bersemangat di usianya yang sudah senja, setia berbagi ilmu kepada siapapun dan bercerita apapun kepada orang lain, sungguh pribadi yang sangat menyenangkan.

Langsung aja,ini ada beberapa inti dari obrolan yang kami lakukan selama menunggu jadwal pesawat beliau;
Mengenai pertumbuhan penduduk beliau mengemukakan bahwa faktor penurun kesuburan manusia adalah protein. Ternyata protein bisa mengurangi kesuburan manusia, beliau telah menguji pada hewan yaitu tikus, dan kemudian mencoba mengambil kesimpulan untuk manusia melalui pengamatan pada negara-negara. Negara-negara yang warganya mengkonsumi banyak protein (negara-negara pengkonsumsi daging,dll misalnya negara-negara barat) ternyata memiliki laju pertumbuhan penduduk yang rendah daripada negara-negara yang mengkonsumsi sedikit protein seperti negara yang makanan pokoknya adalah nasi/sagu/ketan/gandum yang lebih banyak karbohidratnya. Terbukti bahwa 4 negara teratas dalam peringkat jumlah penduduk ternyata konsumsi proteinnya jauh lebih sedikit dari karbohidratnya. Maka apabila ingin menekan pertumbuhan penduduk hendaklah makanan yang dikonsumsi lebih banyak mengandung proteinnya.
Selanjutnya beliau membahas mengenai teknologi yang dihubungkan dengan perilaku dan kearifan lokal Indonesia. Indonesia dinilai telah memiliki kearifan lokal yang baik, namun selama ini perilaku masih kurang, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam dan kekayaan alam yang berlimpah namun mengapa masih kurang terkelola dengan baik? salah satu faktor yang kami bahas tadi adalah penerapan teknologi yang kruang tepat. Teknologi jangan lah menuntut objek yang telah mendarah daging dan sulit untuk diubah, namun teknologi harusnya menyesuaikan dengan perilaku objek dan kebiasaan yang telah terjadi selama ini. Misalkan, apabila nantinya padi habis maka tidak akan bisa kebiasaan masyarakat Indonesia diubah agar tidak makan nasi lagi, itu jelas sangat sulit, oleh karena itu teknologi harus mengikuti perilaku Indonesia dengan makanan pokok nasi itu dengan cara membuat tanaman lain menjadi nasi, karya yang telah dibuat beliau adalah mesin pengolah sagu menjadi nasi. Dengan begini secara tidak disadari masyarakat telah memakan nasi yang sebenarnya dibuat dari sagu, bukan padi. Ini merupakan suatu inovasi yang dapat membawa perubahan besar bagi Indonesia bila teori mengenai teknologi ini dapat diterapkan di seluruh sektor.

Menjadi seorang engineer haruslah berani berbisnis, dan 4 syarat bisnis itu adalah :
1. Relasi, karena 1 musuh itu terlalu banyak, dan 1000 teman itu terlalu sedikit.
2. Diplomasi, pebisnis haruslah pandai berdiplomasi, yakinkanlah orang dengan apa yang anda bisniskan.
3. Spekulasi, harus berani berspekulasi.
4. Hoki, hoki ini tidak bisa kita usahakan sendiri karena hoki ini adalah pemberian Tuhan, oleh karena itu memintalah pada Tuhan, berdoalah dengan fokus dan disertai amal ibadah yang baik :)


Dalam hal pekerjaan, menjadi seorang sarjana janganlah hanya memburu pekerjaan, namun ciptakanlah lapangan pekerjaan. Jangan hanya mencetak diri anda menjadi seorang pekerja, namun ciptakan pekerjaan yang akan memberikan pekerjaan bagi orang lain. Belajarlah berbisnis, ciptakan wirausaha dan jadilah orang kaya harta dan hati :)
Dan dimanapun, apapun, kapanpun pekerjaan yang anda lakoni, nikmatilah pekerjaan itu karena itu akan membawa kebahagiaan tersendiri dalam hidup.

 Ngomong-ngomong mengenai bahasa Indonesia, tata bahasa Indonesia sekarang udah rusak. Kata terhadap, merupakan, terdiri dari, bisa, seluruh adalah sebagian kata yang telah digunakan pada konteks yang salah. Beliau ternyata sangat mencintai Bahasa Indonesia dan paham betul mengenai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, putra dari Guru Bahasa Indonesia ini mengungkapkan bahwa "merupakan" tidak bisa menggantikan "adalah" karena berasal dari kata rupa yang diberi imbuhan me- dan akhiran -kan yang harusnya disertai objek, seperti Bidadari turun dari kahyangan merupakan diri menjadi kupu2. terdiri dari yang benar adalah terdiri atas, karena terdiri berasal dari kata diri yang bisa diartikan seperti berdiri, karena berdiri itu pasti di atas sehingga frase yang benar harusnya terdiri atas. Lalu manakah yang benar, seluruh siswa atau semua siswa?? Yang benar adalah semua siswa. Sekarang yang benar seluruh dunia atau semua dunia?? Seluruh dunia bukan? karena dunia hanya 1, kata semua digunakan untuk jamak. Oleh karena itu jika jumlah objek banyak maka digunakanlah kata semua.

Dan yang terakhir membahas mengenai global warming yang ternyata adalah "...............", bagi teman-teman JTETI UGM yang telah mengambil makul Manajemen Energi, presentasi dari kelompok Husein Mubarok lah clue nya *absurd banget deh,haha

Nah sekian,secuplik obrolan selama kurang lebih 1,5 jam yang bisa aku sampaikan untuk teman-teman semua. Cukup menampar dan membuat mata kita terbuka dan tersadar bahwa selama ini pengetahuan kita masih sangat kurang kawan, sangatlah kosong buatku, seperti danau kering yang tak tertetesi sebutir embun pun. Jadi, mari kita tingkatkan ilmu pengetahuan kita, tinggikan derajat kita, rendahkan hati kita dan pedulilah dengan Indonesia, kembangkan dan cintailahg Indonesia. Hidup Indonesia! :D
Musofa, Enji, Me, Pak Hasroel Thayib, Ridwan, Alfi, Kartika, Mardiyah

Resolusi bukan sekedar ilusi

Resolusi bukan sekedar ilusi, jadi kalo punya resolusi ya di realisasi biar engga basi. Resolusi mo kapan aja periodenya boleh-boleh aja,asalkan kita bisa mengevaluasi dan memperbaiki selalu target-target yang belum tercapai. Resolusi janganlah terlalu idealis,agar bisa dijalankan dengan realistis. Mungkin ini sedikit dramatis, tapi janganlah jadi apatis pada pendapat orang tentang diri kita.


*ngomong apa sih guweh, sebenernya mo ngebahas masalah resolusi ini secara serius tapi males nih, next time aja ya bro.

Sedikit *curhat*

Nilai, nilai memang sekedar hasil dari apa yang telah kita kerjakan dan tidak melulu dapat mendeskripsikan tingkat kemampuan seseorang karena bisa didapatkan dengan cara apa saja dan dalam kondisi apa saja. Walaupun nilai semester ini belum keluar semua,tapi aku bisa menyimpulkan bahwa semester ini aku mendapatkan nilai IP yang terburuk sepanjang sejarah. *oke untuk teman2 yang baca ini sekarang kalian tau kalo IP saya sekarang sedang memburuk*. Rasanya amat menyesal, sedih dan kecewa. Aku gagal memanfaatkan kesempatan yang diberikan Allah kepadaku, aku sia-siakan hal itu hingga mendapatkan hasil yang tak kuharapkan. Aku tau semua yang aku dapatkan entah itu baik ataupun buruk memang harus disyukuri tapi di lubuk hati paling dalam penyesalan masih ada. Dan yang harus aku lakukan adalah introspeksi, introspeksi mengapa ini terjadi dan kemungkinan2nya adalah :
1. Ibadah ku kurang khusyu
2. Berdoa ku kurang
3. Terlalu banyak bersenang2
4. Terlalu banyak pekerjaan di luar kuliah
5. Belum bisa mengatur waktu
6. Kurang menyertakan Allah dalam setiap hal
7. Kurang bersyukur
8. Meremehkan dosen
9. Kurang pertimbangan dalam KRS
10. Banyak lagi yang lainnya...............

dan dari sini aku berkesimpulan bahwa aku dididik Allah untuk tidak menjadi orang yang terlalu sombong, banyak tertawa dan bersenang2 aku dididik Allah untuk menjadi pribadi yang low profile, tekun, gigih, pekerja keras, beriman kuat, dan berjiwa besar jika aku ingin mencapai tujuan hidupku. Dan dari semua ini aku terus berpikir positif oke kali ini IP ku turun tapi selama semester 5 aku mendapatkan pengalaman berharga di luar akademik yang dapat meningkatkan softskilku. Allah memang adil, dan aku yakin ada rencana besar dari Allah untukku atas semua yang terjadi padaku. Terima kasih ya Allah, sebelumnya maafkan hamba-Mu ini.